Sabtu, 26 Juli 2014

BELAJAR BERSYUKUR

Pernahkah kita merasa puas yang benar-benar puas atas segala apa yang kita peroleh?
Dulu saat kita berjuang meraihnya, kita merasakan bahwa itu akan menjadi pencapaian tertinggi yang mungkin sulit kita capai. Karena itu kita sangat termotivasi untuk meraihnya. Siang dijadikan malam, malam dijadikan siang. Kita bekerja keras, membanting tulang. Namun setelah kita berhasil meraihnya, ada kekosongan baru yang kita temukan. Kita merasa hal yang jauh lebih baik masih mampu kita raih. Kita pun memasang target baru yang lebih tinggi.

Ambisi meraih hasil yang lebih baik dan lebih baik lagi adalah hal yang wajar dalam hidup. Tidak ada yang salah. Justru sebaiknya didorong untuk meraih hasil optimal. Sebab kita sendiri tidak akan pernah tahu sejauh mana prestasi terbaik yang mampu kita raih sepanjang hidup kita. Salah satu caranya adalah selalu mencoba kesempatan baru.

Hanya saja, sering kali ambisi buta melenakan kita. Karena merasa mampu meraih prestasi yang lebih baik setelah kita berhasil meraih mimpi sebelumnya, kita jadi sembrono melakukannya. Kerap membabi-buta dan menabrak norma-norma yang ada. Akibatnya, meski pencapaian lebih baik bisa kita dapatkan, akan tetapi kita kehilangan persahabatan dan tali kekeluargaan.

Tentu kita semua tak ingin sukses yang kita raih tercederai oleh berantakannya hubungan personal kita dengan keluarga, teman, dan lingkungan di sekitar karena ambisi buta. Oleh karena itu satu cara agar kita tetap menjejak bumi adalah mensyukuri apa-apa yang sudah kita capai.

Bersyukur akan menyadarkan kita untuk terus belajar dan saling berbagi. Kita pun akan mendapatkan manfaat dari pencapaian yang kita dapatkan, tak sekadar meraih prestasi buta. Oleh karena itu, mari kita belajar mensyukuri apa yang sudah kita raih agar hidup kita lebih bermakna.

BERBAGI MOTIVASI