... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Ketika keberhasilanmu tertunda, jangan putus asa, segera bangkit dan katakan: "AKU BISA DAN TAK AKAN PERNAH MENYERAH."
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 04 Juli 2014
PAKU DI PAGAR
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Minggu, 15 April 2012
Renungan Untuk Kita Semua.. DIMANAKAH HATI NURANI..???
Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !!
Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor pun geger
minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono
(38 th) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 th).
Supriono
akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan
jasa krl. Tapi di stasiun tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena
penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono
membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono
menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia
sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan Setiabudi.
Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,
meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol
plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2
anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit
Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski saleh
(6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya
terbaring digerobak ayahnya. Karena tidak kuasa melawan penyakitnya,
akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6)
pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan
terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau.
Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup
beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi
sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak.
Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu
dari Manggarai hingga ke stasiun Tebet, Supriono berniat
menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di
sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung. Pukul 10.00 yang
mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet. Yang tersisa
hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil.
Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan
menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong
Khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan Bogor datang, tiba-tiba
seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu
dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa
ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan Supriono
langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet.
Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di
tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil
memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku.
Hingga saat itu
Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal
masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00,
akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena
tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki
menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng
tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk
ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan
air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena
masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak
lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya
kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa.
Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan
tempat tinggal dan alamat tetap.
Ini merupakan tamparan untuk bangsa
Indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)